Kalimat Deklaratif (Logika Matematika)

Diposting pada
Kalimat Deklaratif (Logika Matematika)
Rate this post

Kalimat Deklaratif (Logika Matematika)

 

Kali ini kita akan membahas tentang logika matematika. Oke sebelum itu kita harus tau bahwa matematika memiliki cabang-cabang ilmu didalamnya dan salah satunya adalah cabang logika matematika. Dan kesempatan kali ini kita akan membahas tentang kalimat deklaratif.

So, tanpa banyak basa-basi lagi, silahkan diamati, dicermati, dipahami dengan hati, pikiran, dan jiwa yang tenang…. Ingin tahu lebih lagi tentang math?? Yukkks, lanjuutt ke materi kali ini… Let’s learn about it together!!

 

 

Kalimat deklaratif

Ilmu logika berhubungan dengan kalimat-kalimat (argument-argumen) dan hubungan yang ada di antara kalimat-kalimat tersebut. Tujuannya adalah memberikan aturan-aturan sehingga orang dapat menentukan apakah suatu kalimat bernilai benar. Kalimat yang dipelajari dalam logika bersifat umum, baik dengan bahasa sehari-hari maupun bukti matematika yang didasarkan atas hipotesis-hipotesis. Oleh karena itu, aturan-aturan yang berlaku didalamnya haruslah bersifat umum dan tidak tergantung pada kalimat atau disiplin ilmu tertentu. Ilmu logika lebih mengarah pada bentuk kalimat (sintaks) dibandingkan arti kalimat itu sendiri (semantic).

Suatu kalimat deklaratif (proporsisi) adalah kalimat yang bernilai benar atau salah, tetapi tidak keduanya.

 

Contoh

Berikut beberapa contoh proporsisi :

  1. 2 + 2 = 4
  2. 4 adalah bilangan prima.
  3. Jakarta adalah ibukota Negara Indonesia
  4. Penduduk Indonesia berjumlah 50 juta.

Kalimat-kalimat diatas dapat diketahui benar/salahnya. Kalimat (1) dan (3) bernilai benar, sedangkan kalimat (2) dan (4) bernilai salah.

Contoh

 

Berikut beberapa contoh kalimat yang bukan merupakan proporsisi :

  1. Dimanakah letak pulau bali ?
  2. Siapakah namamu ?
  3. Simon lebih tinggi dari lina
Read More:   Silogisme Disjungtif (Logika Matematika)

Kalimat (1) dan (2) jelas bukan proporsisi karena merupakan kalimat Tanya sehingga tidak dapat ditentukan nilai kebenarannya.

Kalimat (3) juga bukan proporsisi karena ada banyak orang didunia ini yang bernama simon dan lina. Kalimat tersebut tidak menunjuk kepada simon dan lina yang spesifik sehingga tidak diketahui apakah benar bahwa simon lebih tinggi dar lina. Kalimat itu tergantung pada konteksnya (semesta pembicara). Jika konteksnya adalah mahasiswa-mahasiswa yang mengambil kuliah matematika diskrit di universitas X dan diantara mahasiswa-mahasiswa tersebut hnaya ada 1 orang yang bernama simon dan 1 orang yang bernama lina, maka kalimat (3) merupakan suatu proporsisi.

 

Sekian dari artikel kali ini jika ada kurang saya mohon maaf.

~TERIMAKASIH~

Baca Juga :